janji...

Ada beberapa kejadian yang beberapa waktu lalu menimpa aku dan keluarga. Ada satu pelajaran berharga yang bisa ku ambil dari kejadian itu. Semuanya berawal ketika mama-ku mendapatkan sedikit musibah. Semuanya sich baik-baik saja. Si 'a' memang bertanggung jawab menghantarkan mama ke rumah sakit dan mendapatkan pengobatan. Kemudian mama diantarkan pulang menggunakan taksi. Dan beliau mengikuti dengan mengajak saudaranya dan menggunakan motor mama. Sampai rumah mama sich tidak mengeluhkan suatu yang berarti. Hanya saja waktu itu mama g bisa jalan. Kakinya sakit. Karena ternyata saat kejadian kaki mama tepatnya di bagian persendian yang terkena. Setelah itu semua yang di rumah sempat menanyakan bagaimana tentang perbaikan motor yang digunakan mama. Saat itu beliau berkata akan diurus kemudian. Dengan ditanggung bersama. Yang di rumah saat itu menyepakati apa yang beliau katakan. Namun hingga saat ini beliau belum datang juga. Kita tidak menuntut macam-macam. Hanya perkataan beliau yang kita pegang. Kita berharap beliau menepati apa yang telah dikatakannya. Akhirnya, hingga saat ini kita melakukan perbaikan dengan biaya sendiri. Kita sudah melupakan semua itu. Biarlah waktu yang akan menjawab semua yang pernah dikatakan beliau.

Kejadian selanjutnya terjadi tak lama setelah itu. Motor yang di pakai mama waktu itu walau belum semuanya dibenahi dengan sempurna, dipakai adikku. Dalam perjalanan pulang tanpa sengaja di depannya ada bus yang tiba-tiba berhenti mendadak. Tanpa persiapan akhirnya dia menabrak bagian belakang bus itu yang menyebabkan 'tedeng' depan motornya pecah. Dengan sedikit pembicaraan keluarga dengan sang sopir bus, disepakati kalau biaya perbaikan akan ditanggung bersama. Kami pun menyepakati apa yang kami bicarakan saat itu. Akhirnya motor itu dibenahi. Dan di waktu selanjutnya sang sopir menemui keluarga kami untuk memenuhi kesepakatan kita bersama saat itu.

Kejadian lain, saat itu mobil milik papa dipinjam satu unit kegiatan mahasiswa. Dalam perjalanannya, ternyata mobil yang digunakan mengalami sedikit kendala. Akhirnya mobil pun di derek, dan dimasukkan bengkel untuk menanyakan apa masalah sebenarnya. Ternyata mobil harus turun mesin. Karena ada bagian yang patah dan harus diganti. Mobil g bisa dijalankan. Akhirnya di bawa ke bengkel dengan di derek. Dan wakil dari UKM itu bersilaturahmi ke rumah, mereka menyampaikan kejadian sebenarnya yang mereka alami dan mereka akan bertanggungjawab hingga mobil diperbaiki. Mereka pun berkata untuk masalah biaya mereka tak sanggup untuk harus menanggung semuanya. Hanya sekedarnya yang mereka sanggupi. Dengan dasar percaya dan sama-sama enak dan tidak merugikan semua pihak, kami menyepakati apa yang telah mereka sampaikan. Sekarang mobil sudah kembali lagi di rumah.

Di akhir cerita kali ini adalah kisah yang aku alami sendiri. Saat itu, akan diadakan suatu kajian, dan aku hanya bertindak sebagai perantara, dan temanku sendiri yang kemudian meneruskan pembicaraan. Sang pembicara menyanggupi dan beliau meminta ada yang menjemput di penginapan pada hari H jam 8 pagi. Malam sebelum kajian di esok harinya, aku diingatkan oleh pihak pembicara jangan lupa untuk menjemput beliau keesokan harinya. Akhirnya aku menghubungi temanku yang berhubungan langsung dengan mereka. Saat aku hubungi temanku itu bilang semuanya sudah beres dan aku diminta untuk menemaninya esok harinya. Akupun menyetujuinya. Esok paginya kegiatan berlangsung seperti biasa. Dan di waktu yang telah disepakati, akupun menyiapkan diri unutk menjemput sang pembicara. Namun apa dikata. Hingga jam yang telah disepakati lewat, temanku yang ngajak aku ternyata belum datang. Ku telpon HP-nya. Dari semua nomor yang kumiliki g ada satupun jawaban yang ku dapatkan. Aku sudah bersiap sejak sebelum jam 8 dan sejak saat itu akupun menghubungi temanku itu. Dan hingga lebih dari batas waktu yang ditentukan dia belum datang juga. Karena aku hanya menemani sifatnya, maka aku tetap tergantung padanya. Tapi kalau hingga waktu yang telah disepakati lewat belum ada orang, akhirnya aku inisiatif sendiri mencari siapa sopir yang dapat mengantarkan ku menjemput sang pembicara. Kesal dan kecewa juga kenapa hingga waktu yang telah disepakati kok belum ada jawaban sama sekali. Akhirnya setelah ku dapat sopir dan ku ajak seorang teman, temanku yang tak bisa kuhubungi tadi tiba-tiba nongol dengan cengar-cengir. Dan dia pun berkata. Ku sudah di telepon dari sana dan dia beralasan sedang ada kegiatan. Padahal dia sendiri g ikut kegiatan itu, dan itu dijadikan alasan. Hingga saat itu aku g habis pikir apa yang telah dipikirkannya. Padahal malamnya kita sudah sepakat untuk tidak menghadiri kegiatan yang dimaksudkan. Gimana niy. Dengan perasaan sebal dan g nyaman aku pun akhirnya menjemput sang pembicara dan setelah kita bertemu terpaksa aku menyampaikan berbagai macam alasan.

Allah, kenapa semuanya itu terlihat biasa sekali dilakukan. Ku hargai perasaan tanggungjawab dari sang sopir dan wakil dari UKM itu. Mereka berani menghadapi tantangan yang ada di depan mereka. Mereka lah yang tangguh. Sedangkan si 'a' dan temanku itu, aku tak kuasa untuk menyalahkan mereka. Mungkin mereka memang sedang berhalangan dan mempunyai alasan tertentu untuk itu. Namun, yang namanya janji dan komitmen, setahuku, sebisa mungkin kita meluangkan waktu untuk memenuhinya. Janji adalah hutang. Dan hutang harus dibayar. Aku ingat salah satu perkataan seorang 'trainer' kalau kita sudah berjanji dan berkomitmen untuk melakukan sesuatu, maka kita juga harus bisa berkomitmen untuk menjalaninya. Jangan sampai banyak alasan hanya sekedar untuk menghindari komitmen itu. Dan di saat kita telah yakin akan menjalaninya namun ada lain hal yang mempengaruhi kita sehingga kita tidak menepati komitmen itu, akan ada perasaan yang mengganjal yang muncul di hati kita. Dan hal inilah yang kadangkala sering kita abaikan. Seperti yang disampaikan Allah dalam Al Qur'an, (Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Qs. Al Fath : 10)). Dari ayat itu bisa dilihat bahwa apapun yang kita katakan atau kita janjikan sesuangguhnya kita sedang berjanji pada Allah. Dan Allah yang akan membalasnya jika kita mengingkarinya.

Ya Allah, aku akui kadangkala aku masih suka menghindar dari tanggung jawabku. Namun sejauh ini aku berusaha untuk menepatinya. Ya Allah, bantu aku untuk dapat menjalani semuanya dengan ikhlas. Ku yakin semua ini adalah jalan terbaik untukku. Bimbing aku sehingga aku dapat menjaga hati, perbuatan, dan perkataanku. Ijinkan aku untuk selalu dekat denganMu, bantu aku untuk selalu menjaga komitmen yang telah ku yakini. Ingatkan aku untuk selalu menjaga semua yang telah ku yakini. Allah bimbing aku, sehingga aku semakin dekat denganMu. Amin.

nb. buat yang merasa tersinggung dengan tulisan ini aku minta maaf. bukan maksud diriku untuk menyinggung. ini hanya sebuah ungkapan rasa hatiku saat ini dan saat beberapa kejadian diatas berlangsung.
maaf ya.

SHARE

Amini Mustajab

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar